Sabtu, 21 Mei 2016

Trip to Yonago, Kyoto, Osaka (part 1)

Jatinangor, 20 Mei 2016

Sebelumnya mo ngucapin: Selamat Hari Kebangkitan Nasional :)
(pura2nya prolog) Bangkit itu susah lho gais. Kita punya beribu alasan dan niat untuk bangkit. Namun untuk mewujudkannya dalam tindakan butuh keberanian (yang kuat) :)

Udah basa-basinya :D

Pagi ini, aku buka file foto2 waktu trip ke Jepang.... dan mulai baper. Beribu rasa campur aduk dalam jiwa (opotoo)..pengen kesana lagi, kapan ya bisa kesana lagi, cari duit dulu nabung terus backpakeran, terus inget oh iya aku kan pengangguran, dan akhirnya gini:

Kemudian kepikiran, ini foto-foto bagus masa ya cuman kesimpen di leptop aja. Ga ada crita2nya gitu? Sebagian udah di upload di fesbuk. Tapi masa ya gitu doang. Kita perjuangan cuii bisa sampe sini. Kubela2in cepet2 sidang tesis biar bisa ikut ke Jepang, terus udah? (halah malah emosi.. sante, thun). Alhasil aku memutuskan menceritakan pengalamanku di blog. Terus gue mau cerita sama siapa lagi? Ada gitu yang mau dengerin? (emosi meneh.... selaw uthun) :D
Oke cekdisot..

Aku ke Jepang bareng Bapak, Ibu, Pak dan Bu Edi (besan ortu). Niat utama adalah menghadiri wisuda Ph.D The Nukni (mbakku). Karna kami (Aku, Bapak, Ibu) adalah newbie untuk urusan ke luar negeri, jadi kita agak rempong waktu ngurus visa, apalagi posisiku di luar kota. Sebenernya bisa sih ngurus visa di Bandung, tapi biar ga pisah2 sama yang lain katanya ^^. Waktu aku baca itenerarynya, sedih gitu. Kok cuman seminggu? Kita ngurus visa aja sebulan dan rempong lho, kok cuman sebentar :(
dan proteslah aku sama Mbakku. Jawabannya, kalo kita kelamaan disana kebutuhan hidupnya jg makin banyak, dul. Sewa hotelnya jg makin lama.
Terus aku membela, aku mau hidup prihatin disana, tidur usel2an ning kamarmu yo rapopo. Hahaha
dan masih panjang lagi.. dan akhirnya aku kalah ^^

Hari pertama kita berangkat dari Semarang ke Cengkareng siang hari. Karna penerbangan Cengkareng-Osaka malam hari, habis-magrib-kalo-ga-salah, kita agak lama nganggur di Soetta. Ngangguuuur bangeeeet.. sambil ngitung orang lewat..

bantal leher berguna banget
with so many luggage
Ketika malam tiba, kita excited. Akhirnyaa waktu yang ditunggu-tunggu datang jua..
Kita naiknya Air Asia, (Eh, serius? Kamu ga takut? Takdoain ya semoga ga ada apa-apa. Itu kata seorang temen yang aku critain ttg keberangkatanku. Jawabku, gak, aku ga takut, kita mampunya pake air asia, bismillah aja...), transit di Kuala Lumpur terus ganti pesawat yang lebih gede.
Waktu di KLA agak kagok gitu sih, secara gue baru pertama ke luar negeri.. hahaa
liat banyak orang dari berbagai negara, bahasanya macem2, untung bahasa melayu ga beda jauh dari bahasa Indonesia jadi masih lah..ngerti kalo udah kepaksa ga bisa bahasa inggris. Tapi aku harus tetap stay cool. Kelancaran perjalan para Bapak-Ibu adalah tugasku (ceritanya aku jadi pemandu selama perjalanan, urusan visa-pasport-dll di bandara). Selaw, ga panikan, dan ga cupu. Itu harus kupegang teguh, karna ortu kadang suka panikan dan kemudian bikin rusak suasana hahaa.

CGK-KLA
(at KLA) Kita ke gate mana, gais?
Tengah malem baru kita melanjutkan perjalanan dari KLA ke Kansai. Seven blessings.. karna waktu perjalanan kira-kira 6 jam, kita bisa liat sunrise dari pesawat.
Semburatnya aja udah seneng kok, kayanya di sayap satunya lebih bagus
Detik-detik landing, subhanallah
Sebelum berangkat aku suka googling gitu tempat yang akan kukunjungi. Salah satunya adalah Kansai International Airport (KIX) ini. Ternyata bandara ini adalah pulau buatan. Sebenarnya letaknya di tengah laut (Osaka Bay, tepatnya), dan dibikin landasan buatan.
Bandara ini dibuat untuk mengurangi kepadatan di Osaka International Airport (Itami Airport). Kenapa harus banget di tengah laut?
Pada 1960-an, daerah Kansai mengalami kemunduran dlm hal perdagangan, karna perdagangan di Jepang saat itu sangat Tokyosentris (opolah ikuu). Pada saat itu sudah ada Itami Airport. Itami Airport yang menghandle penerbangan baik internasional maupun domestik, perlu dilakukan perluasan. Namun daerah Itami dan Toyonaka merupakan daerah padat penduduk. Airport tersebut juga dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi, ditambah lagi banyak komplain mengenai polusi suara.
Pada saat itu juga lagi ramai protes mengenai pembangunan New Tokyo International Airport (Narita International Airport) karena pengambil alihan lahan pedesaan di Chiba Prefecture.
Maka pembangunan bandara baru pun direncanakan dilakukan di lepas pantai. Gituu singkatnya.. cmiiw yaa. Cerita selengkapnya bisa buka wikipedia gaiss (heheee).

Penampakan KIX via Google Earth
Landed di KIX, kita ke bagian imigrasi. Jujur, ini yang bikin aku deg-degan selama perjalanan hahaha. Ya gimana, baru pertama kali, takut ga bisa ngomongnya, bahasa inggrisnya jelek. Tapi ternyata semua berjalan lancaaaar. Petugas imigrasinya juga ramah. Di pintu keluar disambut oleh The Nukni. Aaaaah senangnyaaa. Liat keadaan sekitar... orang Jepang itu jalannya cepet-cepet dan modis. Kita kesana waktu akhir musim dingin. Orang-orang pada pake coat dan sumpah keren banget. Ga ada model klowor disini. Pake coat, syal, kademen tapi tetep ringkes. Bener-bener kaya di film-film.
Karna udah pagi dan kelaparan, kita memutuskan untuk sarapan dulu. Alhamdulillah nemu restoran Udon halal, kita pun cuuuss.
Safely landed, halo Japan!
Thick noodle, named udon
Liat ekspresi Bapak yang ga cocok sm makanannya haha
Nah, dari KIX kita mau Yonago, kota dimana The Nukni tinggal. Dari KIX kita harus ke Namba Station dulu, untuk naik bus ke Yonago nya. So kita naik bus OCAT (Osaka City Air Terminal) ke Namba.
Nunggu bus mau ke Namba
Keluar dari pintu bandara, sreeeeng hawanya dingin banget. Yah beda banget sama di dalem ruangan. Sejuk, seger, kaya ga ada polusi. Pengalaman pertama banget, mulai dari yang beli tiket bus pake mesin, sampai antri di halte busnya. Liat ubin yang warna merah, itu adalah jalur antrinya, dan orang sana pun taat, rapi gitu antrinya. Kita yg orang Indonesia sukanya menggerombol, seakan "nyrimpeti" orang yg mau lewat hahaa.
Udah sampe Namba, karna bus ke Yonagonya masih lama, aku mampir toilet buat bersih-bersih diri. Pertama kali pake fasilitas umum disana, dan ter"yampuuun, ini bersih banget". Lantai toiletnya kering, ga ada yang namanya air kececer di lantai. Dan anehnya lagi, ga ada petugas kebersihan yg selalu stand-by buat jaga toilet tetap bersih kaya di Indonesia. Aku paling suka sama klosetnya. Karna "ndeso"aku lama nyobain semua tombolnya, sampai disusul The Nukni bilang busnya mau dateng hahaa.
Bahkan ada musiknya buat yang malu sama suara pipisnya
Selang beberapa menit, bus Namba-Yonago datang. Bus jalan dan kita langsung ketiduran karna capek. Ga kepikiran juga buat moto interior dalam busnya. Yang pasti beda sama bus antar kota di Indonesia. Perjalanan Namba-Yonago sekitar 4 jam kalo ga salah. Sampai di pedesaan kita disuguhi pemandangan keren. Jalanan dan pegunungan yang diselimuti salju. Aaaah indahnyaaa.

So beautiful, isn't it?
Setelah 4 jam perjalanan, sampailah kita ke Yonago, The small city where The Nukni lives.
Background, left: Hotel Washington, tengah (yg bentuk kaya kipas): Tugu Welcome to Yonago, right: Yonago Station
Welcome to Yonago
Hari ke-2 disempetin dong foto backgroundnya ini
Nah segitu dulu perjalanan kita ke Jepang. Hari selanjutnya kita jalan-jalan ke Tottori, Kyoto n Osaka. Lanjut postingan selanjutnya yaaa. Untuk yang meluangkan waktu mau membaca pengalaman ga penting ini, arigatou gozaimash...^^

Minggu, 08 Mei 2016

Reply 1988

Sudah pernah nonton "Reply 1988"? Satu kata buat drama ini: Heartwarming.

Cerita kaya gini ini yang dibutuhkan masyarakat kita. Ga melulu harus ada "Si baik" dan "Si jahat", karna semua orang punya sisi positif dan negatif. Di drama ini hampir ga ada tokoh antagonis. Karakter tokoh-tokohnya digambarkan secara apik. Dan of course, the soundtrack is great. Seringkali aku menilai bagus enggaknya film/drama itu dari soundtracknya. Lagu-lagunya oke, dan bikin tambah wawasan tentang lagu-lagu jaman itu. In my opinion, don't watch the movie, read the book, or anything else that is not increase your knowledge. Misalnya, film itu hanya melulu soal drama, yang ga nambah wawasan kita.

Reply 1988 ini selain nambah wawasan tentang musik di tahun 1980-1990an, juga nambah wawasan gimana keadaan politik korea di jaman itu, kehidupan anak-anak mudanya, sampai ungkapan yang lagi ngetren di korea jaman itu: Wenyeol.

Mengenai ceritanya.. seriously bikin nangis. I wish watching this series together with my parents instead of watching Utaran atau sinetron-sinetron India yang masih ada tokoh "si jahat". Konflik Reply 1988 juga ga macem-macem, seputar kehidupan sehari-hari. Setelah nonton ini, kalian akan lebih berterima kasih pada orang tua kalian :)